Masuk kehamilan trimester 3 biasanya
calon bunda sudah menyiapkan tas rumah sakit alias hospital bag. Begitu
pun saya waktu itu, sudah cari referensi sana sini apa yang perlu
dibawa. Setelah disaring, saya hanya bawa ini:
1. Pakaian ganti bunda (dan ayah, kalau menginap)
Saya
risih pakai pakaian rumah sakit. Berasa jadi orang sakit. Jadi dari
satu hari setelah operasi, saya sudah pakai pakaian sendiri. Lebih
nyaman dan lebih kece kalau difoto.
2. Pakaian pulang untuk bunda, ayah, dan debay
Pilih
pakaian paling kece, biar bisa foto waktu pulang. Buat debay: popok,
baju newborn, bedong, topi, sarung tangan dan kaki, blanket with hoodie.
3. Pembalut (night)
Rumah
sakit menyediakan pembalut nifas, tapi saya kurang nyaman pakainya, besar
banget. Dan hari ketiga darah nifasnya juga udah ga banyak banyak amat,
jadi bisa pakai pembalut yang night.
4. Sandal jepit
Buat jalan kemana-mana, terutama ke kamar mandi.
5. Alat mandi
Pasti lah ya buat mandi.
6. Smartphone, charger, dan powerbank
I'm sure no one will forget these.
7. Earphone dan buku bacaan
Ini rencananya buat mengisi waktu kosong sih. Tapi nyatanya saya lebih banyak tidur.
8. Cemilan
Yes, I was starving all the time. Walaupun jadwal makan dan snack di rumah sakit cukup 'padat', tapi buat saya itu masih kurang.
9. Botol minum 1 liter
Repot kalau minum dari gelas, harus bolak balik. Apalagi untuk sejenis busui yang selalu haus.
10. Kaus kaki
Ini
karena di daftar yang saya dapat selalu ada barang ini. Katanya rumah
sakit itu dingin. Nyatanya, saya keringetan dan kaus kaki pun ngendon di
tas. Yang dingin cuma di ruang operasi -yang ga akan boleh pake kaus
kaki.
That's it. Sedikit? Iya. Sampai para bidan pun bilang bawaannya sedikit sekali. 😅
Oya, bawa alat makeup bagi yang biasa dandan. Saya cuma bawa Vaseline Lip Therapy Rosy Lips buat pelembab bibir.
Tampilkan postingan dengan label persalinan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label persalinan. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 06 Januari 2018
Jumat, 05 Januari 2018
Obgyn Bandung
Kehamilan trimester 3, saya memutuskan untuk ganti obgyn. Banyak pro kontra dari keluarga dan sahabat. Ada yang bilang oke saja untuk ganti obgyn berapa kali pun. Toh ada catatan medisnya. Ada juga yang bilang jangan ganti-ganti obgyn apalagi di kehamilan trimester 3. Dengarkan saja pro dan kontra itu. Yang penting ibu hamil nyaman dengan obgyn terpilih. Saya pun ingin memilih ulang obgyn yang bisa membuat saya nyaman dan tenang melewati proses yang sangat luar biasa ini.
Saya menjelajah internet (lagi), mencari review tentang obgyn yang ada di @rsborromeus. Setelah membaca review dari berbagai sumber, saya memutuskan ke dokter @anna_ritonga.
Akhirnya saya daftar ke RS Borromeus. Sampai di rumah sakit pukul 7.30 dan saya dapat nomor antrean 23. Padahal, kata resepsionisnya, dokter cantik ini membatasi hanya terima 25 pasien pagi itu. Ternyata saya masih berjodoh dengan dr. Anna. :)
Lalu saya ke klinik kandungan. Timbang berat badan, ukur suhu tubuh, ukur tekanan darah, dan diberitahu saya nomor urut 20 untuk periksa ke dr. Anna. (Iya, nomor urut yang didapat saat mendaftar tidak terpakai, yang terpakai nomor urut saat datang ke klinik kandungan untuk cek awal). Diberitahu oleh perawat, dalam satu jam, dr. Anna rata-rata memeriksa 3 sampai 4 pasien. Jadi saya harus menunggu sekitar 4 sampai 5 jam.
Kesan pertama: well, antrenya panjang (which I don't like).
* sambil menunggu, saya ke food court untuk mengisi lambung yang rasanya gampang sekali kosong.
Singkat cerita, tibalah giliran saya diperiksa. Masuk ruang periksa, disambut dengan sapaan ramah dan senyuman manis.
Kesan ke 2: dokternya ramah
Kalimat pertama dari dr. Anna: "Ibu sebelum hamil beratnya berapa? Oh, sekian ya (sambil lihat catatan periksa sebelumnya), sekarang sekian ya? Aduh, Ibu ini kurang bbnya, kasian adik bayinya. Harus dinaikin ya. Yuk, sekarang kita cek dulu dedeknya."
Kesan ke 3: dokternya to the point
Di-USG. Ditunjukkin ini posisi debaynya, ini tali pusatnya, ini plasentanya, ini air ketubannya, dll. Dan dijelaskan dengan detail.
Kesan ke 4: dokternya detail dan informatif (tanpa harus ditanya dulu)
* Obgyn sebelumnya hanya kasih tahu posisi bayi tanpa menjelaskan bagian-bagiannya. Akan dijelaskan kalau ditanya. Untuk saya dengan kehamilan pertama, I was clueless what to ask. So, informative obgyn is a must.
Di akhir sesi, saya bilang bahwa mata saya minusnya tinggi. Langsunglah dr. Anna minta saya periksa ke dokter mata. Karena sudah terlalu siang dan klinik mata tidak lagi menerima pendaftaran, saya dibantu Perawat Nia (yang membantu dr. Anna) untuk daftar ke klinik mata. Dan saya dapat giliran periksa dengan dr. Bambang. Hasil periksa di dokter mata: proses persalinan harus sesar (Detailnya ada di post Wanita Berkacamata).
Kesan ke 5: dokternya cepat tanggap, perawatnya pun sangat membantu
Fast forward ke hari persalinan. Saya sudah telentang di ruang operasi, dr. Anna masuk dengan suara khasnya, "Selamat pagi!" Lalu ruang operasi penuh dengan canda, sampai debay lahir dan perut dijahit.
Kesan ke 6: dokternya lucu dan easy going (termasuk dokter anestesi-nya: dr. Billy) -operasi jadi tidak menegangkan
* Oya, kalau kata orang epidural itu sakit, jangan percaya. Semua itu asalnya dari otak, sugesti semata. Kalau dari pengalaman saya, rasanya semacam digigit semut tapi agak lama. Tahu semut rangrang yang besar-besar itu? Nhah, seperti digigit semut rangrang rasanya. Trus ada hangat-hangat di pantat, menjalar ke kaki. Lalu kesemutan. That's it.
Selama saya dirawat di rumah sakit pasca persalinan, dr. Anna mengunjungi tiap hari untuk memeriksa keadaan rahim dan jahitan. Tentu tetap dengan suara khas dan senyum ramahnya. Oya, setiap kunjungan, selalu ada kalimat-kalimat positif yang membuat saya optimis (terutama tentang ASI saya yang masih seuprit).
Hari ketiga saya sudah boleh pulang. Satu minggu kemudian kontrol. Di sinilah saya baru berani lihat jahitannya. Saat perbannya dibuka untuk dibersihkan dan diobati, saya diberi cermin untuk melihat. jahitannya rapi. Dua minggu kemudian kontrol lagi dan perban dibuka. Saya diberi krim anti keloid. Waktu 40 hari setelah melahirkan, kontrol terakhir, dr. Anna bilang ada bakat keloid jadi harus pakai krim yang dikasih lebih teratur. Lalu saya konsultasi tentang KB dan dijelaskan dengan detail.
Kesan ke 7: dokternya sangat rapi, teliti, dan tetap informatifMauliate, dok! 😊
Labels:
anna ritonga,
c-sectio,
catatan,
dokter,
dokter kandungan,
dr anna,
epidural,
hamil,
kehamilan,
obgyn,
obgyn bandung,
persalinan,
rekomendasi,
rumah sakit bandung,
rumah sakit borromeus,
sectio,
sesar,
sharing
Jumat, 20 Oktober 2017
Wanita Berkacamata
![]() |
| Source: Pinterest |
Kemarin baru tahu kalau minus mata itu bukan faktor utama bisa/tidak bisa seorang wanita melakukan partus secara Vaginal Birth. Ternyata faktor lainnya adalah kekuatan retina. Kalau minus 10 tapi retinanya kuat, silakan saja melakukan VB. Tapi kalau minus hanya 7, tapi retina kurang kuat, haruslah SC. Begitu kata obgyn saya.
Muncullah harapan baru: kalau retina kuat, berarti saya bisa melakukan partus secara VB (beneran sampai sekarang belum siap mental membayangkan proses pasca melahirkan kalau SC). Dan kemarin saya periksa mata. Saat mengukur minus, si dokter menyerah di lensa minus 12. (Padahal saya sudah bilang terakhir diperiksa dokter menyerah di minus 15, dan silindris 0.5). Lalu tes retina. Pupil harus dilebarkan, diberi tetes mata, harus tutup mata satu jam. Setelah diperiksa hasilnya: retina saya bukan hanya tipis, tapi SANGAT tipis. Kata dokter itu bakat lahir atau bisa juga faktor genetik. Risiko partus VB dengan retina tipis dan minus banyak adalah kebutaan.
Jadi, kalau @k.prativi bisa merasakan partus VB padahal minusnya lumayan banyak, saya dilarang iri karena kondisi retina kami berbeda.
Dan tolong jangan ada lagi komentar, "Kenapa harus SC, ga mau coba lahiran normal?" SC itu juga normal (kalau ga normal, berarti abnormal dong), bedanya si bayi ga dikeluarin lewat vagina. That's it. And now you know my reason.
Atau komentar, "Enak ya SC, ga ngerasain sakitnya ngeden." Iya, memang ga ngeden, tapi pasca operasi itu sakitnya sama aja. Proses pemulihan juga diyakini lebih perlu waktu. Ini yang perlu persiapan mental juga (and I am still in the process of preparing my own self) .
Mau VB atau SC, sama-sama wanita, sama-sama melahirkan, dan sama-sama menjadi seorang ibu. Please stop judging. It's not a mompetition on how we give birth. 😊
Langganan:
Postingan (Atom)

