Halaman

Tampilkan postingan dengan label sharing. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sharing. Tampilkan semua postingan

Minggu, 14 Januari 2018

Dilema Bunda #1

Source: @mommy.101

 Kejadian tadi malam -dan beberapa kali di malam-malam sebelumnya:

Rapha mengantuk, sudah minum susu, tidur, tiba-tiba terbangun. Tapi masih mengantuk. Bunda berusaha menidurkannya lagi. Tapi sia-sia. Pukul 21.30 sampai 23.30 Rapha rewel. Antara mengantuk, lapar, tapi ga bisa tidur dan ga mau minum saking ngantuknya.

Bundanya capek, sebel, gemes, pengen marah, tapi kasihan sama Rapha juga. Akhirnya Rapha ditaruh aja di tempat tidur. Nangis menggelegar-gelegar. Bundanya ikut nangis karena ga tau musti ngapain.

Ayahnya yang masih migrain akhirnya bangun dan turun tangan. Rapha digendong, disayang-sayang bentar. Trus mau minum susu dan akhirnya tidur sekitar pukul 01.00.

Bundanya ngerasa bersalah karena sebel, gemes, pengen marah. Karena bunda ga tenang, Rapha juga ga tenang, makanya rewel. Bunda harus belajar lebih sabar dan tenang nih biar ga keseringan ngerasa bersalah. πŸ˜₯


* tulisan ini saya unggah di Instagram, diunggah ulang oleh @mommy.101, dan mendapat berbagai tanggapan (yang membuat saya semakin sadar "I am not alone. So, be tough."):

memeyadja Mamanya laper kali tu.. dl aku sering dipaksa makan klo gio rewel gbs tidur.. begitu slesai makan, udh bobok aja itu anak.. 

zaa_neza Smangaaat mba... itu sdh wktnya debay maux main maux begadang hihihi bgtlah

leinz_vun jadi inget kisahku pny baby pertama.. besoknya mesti kerja.. tengah malem masih harus nimang2 baby krn rewel. 😁Soalnya siangnya ditidurin mulu Sama yang ngasuh plus diayunan pula. Alhasil, begadang dah tuh anak. Semangat ya Bunda😍😍

may_odilia .... dulu baby jose kalau siang bobok tp malamnya bangun sampe pagi. Posisi besoknya orang tua harus kerja. Untung ada neneknya yg ngurusin semua. Jd orangtuanya bisa simpan tenaga untuk kerja besok..😘😘


mamamolilo Aku kalau kesel sama anak biasanya tarik napas panjang, hembuskan dan... Langsung kasih bapaknya sebelum meledak. πŸ˜‚ Demi kesejahteraan anak dan kewarasan ibunya. Haha.


zeecindy Sama cii.. aku kadang juga gitu nek udah larut malem, ngantuk, tapi Tifa masih rewel ajaa.. derita mamak2 yak..


intanwijaya937 Sy semalam jg mengalami nya...dede olive semalam beberapa kali bangun dan nangis ditengangin malah makin kencang nangisnya..sy ikutan nangis..secara sy sudah 1 minggu ini demam,batuk pilek..dede digendong sm siapa aj ngk mau..mau nya sm sy..papa nya semalam tenangin sy yg nangis dan gendong dede..akhirnya dede bobo...sy lanjut nangis sambil curhat dipelukan papa nya kalau sy lg sakit pasti dede malah nempel..akhirnya si papa bilang mami sabar ya..tenang supaya dede tenang..merasa brsalah krna sudah marah2..semangat untuk semua mommy...belajar dan terus belajar untuk lebih sabar lg..
 
dudukpalingdepan Saya juga pernah kayak gtu. Makanya peranan suami itu penting bgt πŸ˜€ ttp semangat mom
 
desiyanita Saya pernah nglewatinn itu juga..baru ajaa...baby usia brpa @sicapermata ??babyku 3,5bln
 
ieennu Ayah emg slalu punya caranya sendiri bt nenangin anak..

destichacha Semangat mom @sicapermata ... Dan mommy2 lainnya.. Saya juga pernah di posisi itu.. Ikut rungsing dengan anak, akhirnya bapanya juga ikut nimang2.. Dan tidur.. Setelah anak ke empat mah, woles ajah.. Karena udah tau triknya.. πŸ˜„πŸ˜„
 
indahdiannovita Paling dilema emang klo anak rewel 😒 kita cuma bisa menebak2 kenapa? Maunya apa? Krn si kecil blm bisa ngomong atau bahkan ketika udh balita pun belum bisa mengungkapkan apa yg dirasa, cuma nangis aja 😭 bener banget, sering banget penyesalan dateng abis marah2, BT atau kesel krn ngerasa "ga tahan" hrs gmn menghadapi si kecil. Harus banyak2 stok sabar, mudah2an kita dikuatkan selalu ya mom ☺️πŸ’ͺ🏻

kameliamf_musasyi.jr Saya sampe anak ke 4 yaa msh gitu juga mba @sicapermata . Kalo sdh dlm kondisi begitu semua teori lgsg lupa, mmg bagusnya ada yg bantu handle bayinya ketika ibu sdh sgt down. Sekedar bs minum segelas teh hangat dengan tenang biasanya sdh bs mengembalikan kewarasan saya.
melsari79 @kameliamf_musasyi.jr iya setuju mbak klo ada yg bantu handle bayi lbh baik (bs keluarga/mbake/nanny) krn pasca melahirkan kondisi fisik dan psikis mommy msh kyk roller coaster up n down πŸ˜… mommy @sicapermata tetap semangat ya jgn ragu utk minta bantuan org lain saat kita lelah, sy jg msh ngalamin hal yg sama koq pdhl udah anak ke3 dan balita 😬
 
 
 
 

Jumat, 05 Januari 2018

Obgyn Bandung



Kehamilan trimester 3, saya memutuskan untuk ganti obgyn. Banyak pro kontra dari keluarga dan sahabat. Ada yang bilang oke saja untuk ganti obgyn berapa kali pun. Toh ada catatan medisnya. Ada juga yang bilang jangan ganti-ganti obgyn apalagi di kehamilan trimester 3. Dengarkan saja pro dan kontra itu. Yang penting ibu hamil nyaman dengan obgyn terpilih. Saya pun ingin memilih ulang obgyn yang bisa membuat saya nyaman dan tenang melewati proses yang sangat luar biasa ini.

Saya menjelajah internet (lagi), mencari review tentang obgyn yang ada di @rsborromeus. Setelah membaca review dari berbagai sumber, saya memutuskan ke dokter @anna_ritonga.

Akhirnya saya daftar ke RS Borromeus. Sampai di rumah sakit pukul 7.30 dan saya dapat nomor antrean 23. Padahal, kata resepsionisnya, dokter cantik ini membatasi hanya terima 25 pasien pagi itu. Ternyata saya masih berjodoh dengan dr. Anna. :)

Lalu saya ke klinik kandungan. Timbang berat badan, ukur suhu tubuh, ukur tekanan darah, dan diberitahu saya nomor urut 20 untuk periksa ke dr. Anna.  (Iya, nomor urut yang didapat saat mendaftar tidak terpakai, yang terpakai nomor urut saat datang ke klinik kandungan untuk cek awal). Diberitahu oleh perawat, dalam satu jam, dr. Anna rata-rata memeriksa 3 sampai 4 pasien. Jadi saya harus menunggu sekitar 4 sampai 5 jam.
Kesan pertama: well, antrenya panjang (which I don't like).

* sambil menunggu, saya ke food court untuk mengisi lambung yang rasanya gampang sekali kosong.


Singkat cerita, tibalah giliran saya diperiksa. Masuk ruang periksa, disambut dengan sapaan ramah dan senyuman manis.
Kesan ke 2: dokternya ramah

Kalimat pertama dari dr. Anna: "Ibu sebelum hamil beratnya berapa? Oh, sekian ya (sambil lihat catatan periksa sebelumnya), sekarang sekian ya? Aduh, Ibu ini kurang bbnya, kasian adik bayinya. Harus dinaikin ya. Yuk, sekarang kita cek dulu dedeknya."

Kesan ke 3: dokternya to the point

Di-USG. Ditunjukkin ini posisi debaynya, ini tali pusatnya, ini plasentanya, ini air ketubannya, dll. Dan dijelaskan dengan detail.

Kesan ke 4: dokternya detail dan informatif (tanpa harus ditanya dulu)

* Obgyn sebelumnya hanya kasih tahu posisi bayi tanpa menjelaskan bagian-bagiannya. Akan dijelaskan kalau ditanya. Untuk saya dengan kehamilan pertama, I was clueless what to ask. So, informative obgyn is a must.

Di akhir sesi, saya bilang bahwa mata saya minusnya tinggi. Langsunglah dr. Anna minta saya periksa ke dokter mata. Karena sudah terlalu siang dan klinik mata tidak lagi menerima pendaftaran, saya dibantu Perawat Nia (yang membantu dr. Anna) untuk daftar ke klinik mata. Dan saya dapat giliran periksa dengan dr. Bambang. Hasil periksa di dokter mata: proses persalinan harus sesar (Detailnya ada di post Wanita Berkacamata).
Kesan ke 5: dokternya cepat tanggap, perawatnya pun sangat membantu

Fast forward ke hari persalinan. Saya sudah telentang di ruang operasi, dr. Anna masuk dengan suara khasnya, "Selamat pagi!" Lalu ruang operasi penuh dengan canda, sampai debay lahir dan perut dijahit.
Kesan ke 6: dokternya lucu dan easy going (termasuk dokter anestesi-nya: dr. Billy) -operasi jadi tidak menegangkan

* Oya, kalau kata orang epidural itu sakit, jangan percaya. Semua itu asalnya dari otak, sugesti semata. Kalau dari pengalaman saya, rasanya semacam digigit semut tapi agak lama. Tahu semut rangrang yang besar-besar itu? Nhah, seperti digigit semut rangrang rasanya. Trus ada hangat-hangat di pantat, menjalar ke kaki. Lalu kesemutan. That's it.

Selama saya dirawat di rumah sakit pasca persalinan, dr. Anna mengunjungi tiap hari untuk memeriksa keadaan rahim dan jahitan. Tentu tetap dengan suara khas dan senyum ramahnya. Oya, setiap kunjungan, selalu ada kalimat-kalimat positif yang membuat saya optimis (terutama tentang ASI saya yang masih seuprit).
Hari ketiga saya sudah boleh pulang. Satu minggu kemudian kontrol. Di sinilah saya baru berani lihat jahitannya. Saat perbannya dibuka untuk dibersihkan dan diobati, saya diberi cermin untuk melihat. jahitannya rapi. Dua minggu kemudian kontrol lagi dan perban dibuka. Saya diberi krim anti keloid. Waktu 40 hari setelah melahirkan, kontrol terakhir, dr. Anna bilang ada bakat keloid jadi harus pakai krim yang dikasih lebih teratur. Lalu saya konsultasi tentang KB dan dijelaskan dengan detail.
Kesan ke 7: dokternya sangat rapi, teliti, dan tetap informatif
Mauliate, dok! 😊

Kamis, 04 Januari 2018

(Masih Tentang) Kebiasaan Membandingkan

This was Bunda Rapha years and years ago :)

Waktu kecil sampai memasuki usia remaja, saya termasuk 'korban' perbandingan. Kadang orang tua, kadang saudara lain yang membandingkan.

Dengan siapa saya-kecil ini dibandingkan? Dengan sepupu-sepupu. Mulai dari, "Kamu tu cewek, pakai rok. Kayak cicik (kakak sepupu perempuan) itu lho mau pakai rok," atau "Rambutmu dipanjangin biar cantik kayak cicik itu," Memang tidak semua negatif, ada positifnya. Tapi tetap saja yang namanya dibandingkan itu tidak enak. I am who I am.

Oya, ada satu kejadian yang paling terkenang:

Saat SMA, saya memilih jurusan yang dianggap 'tercela'. Saya tidak mau masuk jurusan IPA karena menurut saya kurang 'applicable' dalam hidup sehari-hari. Dan memang tidak bisa masuk IPA karena nilai Kimia saya jauh di bawah standard. Saya tidak mau masuk IPS karena saya tidak suka menghitung nominal uang tapi tidak ada uangnya. Dan memang nilai Akuntansi saya jeblok.

Saya masuk jurusan Bahasa. Bukan karena terpaksa, tapi memang itu pilihan saya. Saya suka belajar bahasa (walaupun akhirnya saya tidak berhasil menjadi fasih bahasa Mandarin πŸ™ˆ). Komentar yang ada:
• Kok masuk bahasa? Kalo ga kayak cicik masuk IPA, ya kayak ooh (kakak sepupu laki-laki) tu IPS.
• Ngapain masuk bahasa? Ntar kuliah apa? Kayak cicik tu IPA, banyak pilihan kuliahnya.
• O, masuk bahasa? IPS tu kayak ooh, kuliah gampang, kerja juga gampang.
dan seterusnya, dan seterusnya.

Akhirnya saya tetap masuk kelas bahasa. Menyesal? No, no, no. Pelajaran sesuai minat dan kemampuan, teman sekelas pun asik. Satu tahun terkakhir di SMA yang paling saya nikmati.

Perbandingannya selesai? Tentu belum. Menjelang pendaftaran kuliah: • Masuk UNIKA (Soegijapranata) aja kayak ooh sama cicik
• Ambil Ekonomi aja, gampang kerjanya. Kayak ooh tu.
• Udah, kuliah di Semarang aja. Ga usah jauh-jauh. Ooh sama cicik juga kuliah di Semarang.
dan seterusnya, dan seterusnya. Helooow! I live my life in my own way. Dibanding-bandingkan itu capek lho. Dalam kasus saya, saya anggap perbandingan itu motivasi. Motivasi untuk menunjukkan pilihan saya tidak salah.

Sekarang masih dibandingkan? Kadang. Trus? Kibasin rambut aja.

Kamis, 07 Desember 2017

ASI versus SuFor

 
Source: Pinterest


Hari pertama Rapha lahir, ASI saya belum keluar setetes pun. Tapi saya dan suami mendukung IMD. Jadi, walaupun belum ada tetes-tetes kolostrum pertama, tetap bayi Rapha dikenalkan pada puting saya. Karena nafas yang belum teratur, hari pertama itu bayi Rapha tidak tidur sama saya, berarti tidak bisa menyusu, artinya juga tidak bisa merangsang kelenjar ASI untuk produksi. Hari pertama bayi Rapha sudah diberi susu formula.

Kok saya dan suami menyetujui? Bukannya anak bisa bertahan 2-3 hari setelah lahir tanpa asupan apapun?

Saya dan suami tidak mau ambil risiko bayi Rapha dehidrasi. Jadi kapanpun bayi Rapha butuh, pihak rumah sakit sudah mendapat persetujuan memberi susu formula.

Hari ketiga, saya sudah boleh pulang, tapi bayi Rapha masih harus tinggal di rumah sakit untuk dua hari karena bilirubin yang tinggi. Rasanya sedih bercampur takut. Pihak rumah sakit terbuka 24 jam untuk pengantaran ASI. Tapi saat itu ASI saya masih sedikit. Sekali pompa, dalam waktu satu jam, hanya dapat 15-20 ml.

Hari kedua, bayi Rapha boleh pulang. Dengan catatan di rumah rajin dijemur dan banyak asupan. Tapi hanya empat hari di rumah, bayi Rapha harus ke rumah sakit lagi karena lemas. Ternyata bilirubinnya naik lagi. Penyebabnya: kurang dijemur (karena memang tidak ada sinar matahari) dan KURANG MINUM. Ini yang membuat saya merasa sangat bersalah. Saya sangat ingin bayi Rapha hanya minum ASI. Padahal jumlah yang dibutuhkan jauh lebih besar daripada yang dihasilkan oleh saya.

Empat hari di rumah sakit, suami bolak-balik antar ASI. Tapi tidak se-ngoyo sebelumnya. Berapapun hasil pompaan dalam 3 jam, itu yang diantar. Pernah hanya dapat 30 ml, pernah juga 60 ml. Puji Tuhan, suami termasuk ayah ASI, jadi tetap antar. Oiya, bayi Rapha sekali minum 80 ml, tiap 3 jam. Jadi ASI saya tentu tidak cukup. Sisanya? Susu formula.

Sampai di rumah, saya dan suami mulai agak ketat untuk asupan bayi Rapha. Tiap hari saya pompa ASI supaya dapat mengukur asupan bayi Rapha. Karena ASI belum cukup untuk minimal 8 x 80ml sehari, kami beri tambahan susu formula.


Apa saya dan suami tidak ingin memberi ASI eksklusif? Tentu ingin. Breast milk is the best milk ever! Lagian dengan ASIX kan jadi irit, ga perlu beli susu formula. Tapi kami memilih untuk mengubur ego kami, yang penting Rapha sehat.

Ada yang komentar di foto yang diunggah suami saya di Facebook, "jangan lupa ASI Eksklusif ya". Diiyain aja. She knows nothing about the condition. I take it as a motivation.

Buat emak-emak yang bisa kasih ASIX, that's such a privilege. Give thanks for it.
Buat emak-emak seperti saya yang harus mengkombinasikan ASI dan Sufor, kita tetap harus bersyukur masih bisa kasih ASI.
Buat emak-emak yang full kasih sufor, it's ok. Ngasih sufor ke anak ga dosa kok. Toh banyak banget anak yang dikasih sufor pas bayi, gedenya juga sehat, cerdas, lincah.

Intinya syukuri aja mau ASIX, ASI+SuFor, full SuFor. Kita sendiri yang tahu keadaan kita dan bayi kita. Yang penting debay sehat. Orang lain mau komentar negatif, kita kibasin rambut aja.