Di tulisan tentang baby blues yang lalu, saya menceritakan yang saya alami paska melahirkan bayi Rapha. Nah, di tulisan ini saya ingin berbagi bagaimana saya mengatasi baby blues bahkan postpartum depression yang saya alami.
1. Jangan lakukan semua hal sendiri
Di sinilah peran ayah Rapha. Karena kami hidup jauh dari keluarga dekat, tidak ada orang tua, mertua, bahkan saudara dekat yang bisa membantu kami mengurus bayi Rapha, jadilah kami -bunda dan ayah Rapha yang masih amatir- berjuang berdua. Saat bunda merasa lelah, jangan sungkan meminta bantuan ayah: untuk mengganti popok, menggendong dan meninabobokkan, mengajak main, atau apapun yang bisa dilakukan oleh ayah. Saya bahkan meminta tolong ayah Rapha untuk memberi susu Rapha (pakai botol tentunya 😜, isinya bisa ASIP, bisa SuFor).
2. Istirahat yang cukup
Kayaknya susah ya Bun? Kan bayi baru lahir hobinya ngajakin begadang. Saya tidak hanya tidur waktu malam. Setiap Rapha tidur, sebisa mungkin saya ikut tidur. Kalau malam, buatlah "shift jaga". Saya biasanya bagi tugas dengan ayah Rapha per tiga (3) jam. Setelah ayah Rapha pulang kerja, mandi, makan, tidur 3 jam. Setelah itu gantian: ayah Rapha jaga, dan bunda tidur 3 jam. Begitu sampai pagi. Lumayan membantu.
3. Jaga asupan makanan
Lapar bikin cranky alias cepat marah, benar. BuSui sering lapar, benar. BuSui yang kelaperan semakin cepat emosi, sangat benar. Jadi, makanlah setiap merasa (agak) lapar. Trik bunda Rapha: selalu sediakan camilan sehat di rumah (plus sediakan es krim dan coklat: mood booster bunda Rapha). Oya, makan makanan yang sehat supaya badan terasa selalu fit.
4. Curhat dengan Bunda lain
Bagian ini agak tricky. Harus pintar memilih tempat curhat. Kalau salah, bisa semakin dpressed. Beruntung saya punya grup di salah satu aplikasi chat yang sangat mendukung. Di grup itu, kami bebas bertanya dan curhat. Anggota grup lain akan dengan senang hati menjawab dan memberi dukungan. Tidak ada penghakiman -no judgment, no momshaming, only supporting each other.
5. Berpikir positif
Ini bagian yang gampang gampang susah. Baby blues, postpartum depression, apalagi postpartum psychosis secara disadari atau tidak membuat kita berpikir negatif. Kita sendirilah yang bisa mengatur pikiran. Kalau susah, minta ayah untuk selalu memberikan kalimat-kalimat positif. Saya bersyukur ayah Rapha adalah orang yang positif. Setiap kali saya merasa lelah dan tertekan, saya curhat dan selalu diberi kata-kata positif (tentunya dengan bonus pelukan).
Jadi, apa yang bisa ayah perbuat (oh, semoga para ayah membaca ini sehingga para bunda tidak erlu lagi memberikan penjelasan):
1. Selalu siap menggantikan bunda menjaga dedek bayi.
2. Siapkan makanan kesukaan bunda (untuk mengisi perut dan menaikkan mood lagi 😊).
3. Ingatkan bunda untuk istrahat dan makan yang cukup.
4. Dengarkan saat bunda mengeluh
5. Berikan kalimat-kalimat positif yang memotivasi (dan berilah bonus sesuai love language bunda)
Sebenarnya, apapun yang dilakukan ayah, buatlah bunda merasa tidak sendiri dan disayang. That will be a huge help for both mom and baby. :)
Tampilkan postingan dengan label parenting. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label parenting. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 20 Januari 2018
Kamis, 18 Januari 2018
Berjemur Yuk, Nak
Bayi Rapha sempat dirawat di rumah sakit karena kadar bilirubinnya yang tinggi. Saat saya boleh pulang (paska melahirkan), bayi Rapha masih harus tinggal selama 2 hari untuk disinar. Setelah 2 hari, dinyatakan kadar bilirubin sudah 9.27 (batas maksimal untuk bayi baru lahir adalah 10). Senang sekali akhirnya bisa bawa bayi Rapha pulang ke rumah, dengan catatan dari dokter: dijemur dan banyak minum.
Keadaan saat itu hampir setiap hari mendung dan saya masih (agak) idealis untuk masalah susu. Saya ingin bayi Rapha minum ASI. Padahal ASI saya saat itu masih sangat sedikit. Jadilah bayi Rapha kurang dijemur, kurang minum, dan terllihat kuning. Alhasil, bayi Rapha hanya 4 hari di rumah dan harus dirawat lagi di rumah sakit karena bilirubinnya naik jadi 14.09. Bunda Rapha langsung sedih dan merasa bersalah.
Sepulangnya dari rumah sakit, saya sudah tidak lagi idealis dengan susu. Hal terpenting sekarang, bayi Rapha cukup minum. Dan setiap matahari pagi cerah, bayi Rapha selalu dijemur. Ini untuk menghindari kadar bilirubin naik lagi (kadar bilirubin masih belum stabil sampai usia bayi 30 hari).
Ini beberapa tips menjemur bayi ala Bunda Rapha:
1. Buka pakaian bayi
Saat berjemur, bayi Rapha hanya pakai popok saja. Itu pun popoknya saya longgarkan. Hal ini supaya sinar matahari bisa langsung kena ke kulit bayi. Apa gunanya berjemur kalau tidak kena sinar matahari, ya kan?
2. Pilih waktu yang tepat
Tidak setiap saat sinar matahari itu baik lho, Bun. Sebaiknya jemur bayi antara pukul 7 sampai 9 pagi. Setelah jam 9 pagi malah bisa membahayakan bayi, misalnya kulit bayi terbakar.
3. Lindungi mata bayi
Pastikan mata bayi tidak terkena sinar matahari. Saya pakai selimut dengan hoodie atau topi yang saya turunkan untuk menutup mata bayi Rapha saat berjemur.
4. Jemur bagian depan dan belakang
Jangan hanya jemur dadanya saja ya, Bun. Jemur juga bagian punggungnya. Pertama bayi dalam keadaan telentang, lalu posisi bayi dibalik (tengkurap di paha Bunda). Waktu posisi tengkurap, saya biasanya sengaja buka popok bayi Rapha supaya pantatnya juga kena sinar matahari.
5. Jangan terlalu lama
Durasi yang terbaik adalah 15-30 menit setiap bagian, tergantung seberapa cerah mataharinya. Kalau patokan saya, tiap bayi Rapha sudah protes dan merasa tidak nyaman, berarti sudah harus diakhiri.
6. Siapkan susu
Kalau bayi Bunda ASIX, dan Bunda tidak nyaman menyusui di ruang terbuka, pompa dulu. Jadi tidak perlu buka-buka payudara di tempat berjemur (yang biasanya teras rumah). Seperti kita yang dewasa kalau berpanas-panasan pasti haus. Bayi juga demikian. Rapha hampir selalu berjemur sambil minum susu.
7. Jangan langsung mandikan bayi setelah berjemur
Mungkin kita pikir setelah berjemur, keringetan, mandi bakal seger. Jangan, Bun. Kan waktu berjemur pori-pori terbuka semua, trus kalau langsung mandi, ntar bayinya masuk angin. Saya biasanya tunggu sekitar 30 menit, setelah itu mandikan bayi Rapha.
Untuk tempat berjemur, memang ada yang bilang harus terkena sinar matahari langsung supaya lebih maksimal hasilnya. Tapi ada juga yang bilang kalau cuaca berangin, boleh kok tidak terkena sinar matahari langsung. Selalu ada pro dan kontra. Kalau saya pribadi lebih suka kena sinar matahari langsung. Lebih mantap rasanya. Bundanya juga bisa ikut berjemur kan. 😀
Oya, kadang kita bingung ya, Bun, selama menjemur bayi enaknya ngapain. Ini yang biasa saya lakukan saat menjemur bayi Rapha:
1. Memberi susu
2. Memijat
3. Membersikan telapak tangan, telapak kaki, ketiak, dan leher
4. Ngobrol atau nyanyi sama Rapha
Atau lakukan apa saja yang bisa menjalin interaksi dengan bayi. Pokoknya jangan main smartphone deh 😀
Sampai kapan bayi harus dijemur? Yang paling penting sampai usia 40 hari. Tapi setelah itu pun masih disarankan untuk menjemur bayi. Saya masih jemur bayi Rapha sampai sekarang. Sinar matahari pagi kan terkenal menyehatkan. So, why not?
Berjemur yuk, Nak!
Keadaan saat itu hampir setiap hari mendung dan saya masih (agak) idealis untuk masalah susu. Saya ingin bayi Rapha minum ASI. Padahal ASI saya saat itu masih sangat sedikit. Jadilah bayi Rapha kurang dijemur, kurang minum, dan terllihat kuning. Alhasil, bayi Rapha hanya 4 hari di rumah dan harus dirawat lagi di rumah sakit karena bilirubinnya naik jadi 14.09. Bunda Rapha langsung sedih dan merasa bersalah.
Sepulangnya dari rumah sakit, saya sudah tidak lagi idealis dengan susu. Hal terpenting sekarang, bayi Rapha cukup minum. Dan setiap matahari pagi cerah, bayi Rapha selalu dijemur. Ini untuk menghindari kadar bilirubin naik lagi (kadar bilirubin masih belum stabil sampai usia bayi 30 hari).
Ini beberapa tips menjemur bayi ala Bunda Rapha:
1. Buka pakaian bayi
Saat berjemur, bayi Rapha hanya pakai popok saja. Itu pun popoknya saya longgarkan. Hal ini supaya sinar matahari bisa langsung kena ke kulit bayi. Apa gunanya berjemur kalau tidak kena sinar matahari, ya kan?
2. Pilih waktu yang tepat
Tidak setiap saat sinar matahari itu baik lho, Bun. Sebaiknya jemur bayi antara pukul 7 sampai 9 pagi. Setelah jam 9 pagi malah bisa membahayakan bayi, misalnya kulit bayi terbakar.
3. Lindungi mata bayi
Pastikan mata bayi tidak terkena sinar matahari. Saya pakai selimut dengan hoodie atau topi yang saya turunkan untuk menutup mata bayi Rapha saat berjemur.
4. Jemur bagian depan dan belakang
Jangan hanya jemur dadanya saja ya, Bun. Jemur juga bagian punggungnya. Pertama bayi dalam keadaan telentang, lalu posisi bayi dibalik (tengkurap di paha Bunda). Waktu posisi tengkurap, saya biasanya sengaja buka popok bayi Rapha supaya pantatnya juga kena sinar matahari.
5. Jangan terlalu lama
Durasi yang terbaik adalah 15-30 menit setiap bagian, tergantung seberapa cerah mataharinya. Kalau patokan saya, tiap bayi Rapha sudah protes dan merasa tidak nyaman, berarti sudah harus diakhiri.
6. Siapkan susu
Kalau bayi Bunda ASIX, dan Bunda tidak nyaman menyusui di ruang terbuka, pompa dulu. Jadi tidak perlu buka-buka payudara di tempat berjemur (yang biasanya teras rumah). Seperti kita yang dewasa kalau berpanas-panasan pasti haus. Bayi juga demikian. Rapha hampir selalu berjemur sambil minum susu.
7. Jangan langsung mandikan bayi setelah berjemur
Mungkin kita pikir setelah berjemur, keringetan, mandi bakal seger. Jangan, Bun. Kan waktu berjemur pori-pori terbuka semua, trus kalau langsung mandi, ntar bayinya masuk angin. Saya biasanya tunggu sekitar 30 menit, setelah itu mandikan bayi Rapha.
![]() | |
| Rapha's first sunbathing :) - Bundanya masih amatir, matanya nggak ditutup. Trus dimarahin sama bidan. |
Untuk tempat berjemur, memang ada yang bilang harus terkena sinar matahari langsung supaya lebih maksimal hasilnya. Tapi ada juga yang bilang kalau cuaca berangin, boleh kok tidak terkena sinar matahari langsung. Selalu ada pro dan kontra. Kalau saya pribadi lebih suka kena sinar matahari langsung. Lebih mantap rasanya. Bundanya juga bisa ikut berjemur kan. 😀
Oya, kadang kita bingung ya, Bun, selama menjemur bayi enaknya ngapain. Ini yang biasa saya lakukan saat menjemur bayi Rapha:
1. Memberi susu
2. Memijat
3. Membersikan telapak tangan, telapak kaki, ketiak, dan leher
4. Ngobrol atau nyanyi sama Rapha
Atau lakukan apa saja yang bisa menjalin interaksi dengan bayi. Pokoknya jangan main smartphone deh 😀
Sampai kapan bayi harus dijemur? Yang paling penting sampai usia 40 hari. Tapi setelah itu pun masih disarankan untuk menjemur bayi. Saya masih jemur bayi Rapha sampai sekarang. Sinar matahari pagi kan terkenal menyehatkan. So, why not?
Berjemur yuk, Nak!
Kamis, 04 Januari 2018
(Masih Tentang) Kebiasaan Membandingkan
![]() |
| This was Bunda Rapha years and years ago :) |
Waktu kecil sampai memasuki usia remaja, saya termasuk 'korban' perbandingan. Kadang orang tua, kadang saudara lain yang membandingkan.
Dengan siapa saya-kecil ini dibandingkan? Dengan sepupu-sepupu. Mulai dari, "Kamu tu cewek, pakai rok. Kayak cicik (kakak sepupu perempuan) itu lho mau pakai rok," atau "Rambutmu dipanjangin biar cantik kayak cicik itu," Memang tidak semua negatif, ada positifnya. Tapi tetap saja yang namanya dibandingkan itu tidak enak. I am who I am.
Oya, ada satu kejadian yang paling terkenang:
Saat SMA, saya memilih jurusan yang dianggap 'tercela'. Saya tidak mau masuk jurusan IPA karena menurut saya kurang 'applicable' dalam hidup sehari-hari. Dan memang tidak bisa masuk IPA karena nilai Kimia saya jauh di bawah standard. Saya tidak mau masuk IPS karena saya tidak suka menghitung nominal uang tapi tidak ada uangnya. Dan memang nilai Akuntansi saya jeblok.
Saya masuk jurusan Bahasa. Bukan karena terpaksa, tapi memang itu pilihan saya. Saya suka belajar bahasa (walaupun akhirnya saya tidak berhasil menjadi fasih bahasa Mandarin 🙈). Komentar yang ada:
• Kok masuk bahasa? Kalo ga kayak cicik masuk IPA, ya kayak ooh (kakak sepupu laki-laki) tu IPS.
• Ngapain masuk bahasa? Ntar kuliah apa? Kayak cicik tu IPA, banyak pilihan kuliahnya.
• O, masuk bahasa? IPS tu kayak ooh, kuliah gampang, kerja juga gampang.
dan seterusnya, dan seterusnya.
Akhirnya saya tetap masuk kelas bahasa. Menyesal? No, no, no. Pelajaran sesuai minat dan kemampuan, teman sekelas pun asik. Satu tahun terkakhir di SMA yang paling saya nikmati.
Perbandingannya selesai? Tentu belum. Menjelang pendaftaran kuliah: • Masuk UNIKA (Soegijapranata) aja kayak ooh sama cicik
• Ambil Ekonomi aja, gampang kerjanya. Kayak ooh tu.
• Udah, kuliah di Semarang aja. Ga usah jauh-jauh. Ooh sama cicik juga kuliah di Semarang.
dan seterusnya, dan seterusnya. Helooow! I live my life in my own way. Dibanding-bandingkan itu capek lho. Dalam kasus saya, saya anggap perbandingan itu motivasi. Motivasi untuk menunjukkan pilihan saya tidak salah.
Sekarang masih dibandingkan? Kadang. Trus? Kibasin rambut aja.
Rabu, 03 Januari 2018
Kebiasaan Membandingkan (part 1)
"Miss, kok anak saya belum bisa bicara ya? Apa speech delay?"
"Miss, si A sudah bisa lepas popok, kok anak saya belum ya?"
"Miss, anak saya kok ga kayak si B ya?"
"Kalau si C hebat ya sudah bisa baca, anak saya kenal huruf aja masih salah-salah."
Ya, itu beberapa kalimat yang sering saya dengar saat mengajar di TK.
Atau ... "Si A aja bisa dapet nilai 100 kok anak saya ga bisa sih?"
"Si B pinter tuh basketnya, saya mau les-in anak saya basket juga ah."
Itu hanya dua kalimat yang bisa saya ingat saat mengajar di SD.
Siapa yang ngomong itu? Orang tua.
Sekarang ...
"Anakku kok belum bisa angkat kepala ya? Padahal sudah umurnya."
"Anakku sudah naik BBnya 5 kg, anakmu gimana?"
"ASImu dikit ya? Pantesan anakmu kecil gitu. Anakku minumnya kuat, jadi gendutnya cepet."
Siapa yang ngomong gitu? Orang tua (juga)
Intinya, semua orang tua (pada dasarnya) punya intuisi untuk membandingkan. Padahal ya, tiap anak itu beda. Tiap anak itu unik. Jangan sama ratakan. Perkembangan tiap anak pasti beda.
Memang ada teori yang bilang usia sekian harus sudah bisa ini dan itu. Tapi itu sekadar teori, bukan patokan mutlak yang harus dipegang teguh.
Kalau ada yang bilang "anakku sudah bisa ini itu, anakmu belum ya?" - jangan diambil hati. Sekali lagi, perkembangan tiap anak itu beda. Tiap anak diciptakan unik.
Dan kalau ada yang bilang, "wah hebat ya si A sudah bisa ini itu, anakku kok belum ya?" - kasih tau aja kalau (lagi-lagi) perkembangan tiap anak itu beda. Tiap anak diciptakan unik.
So, anakku ya anakku. Anakmu ya anakmu. Mereka beda. Jangan dibandingkan. Jangan disamakan.
"Miss, si A sudah bisa lepas popok, kok anak saya belum ya?"
"Miss, anak saya kok ga kayak si B ya?"
"Kalau si C hebat ya sudah bisa baca, anak saya kenal huruf aja masih salah-salah."
Ya, itu beberapa kalimat yang sering saya dengar saat mengajar di TK.
Atau ... "Si A aja bisa dapet nilai 100 kok anak saya ga bisa sih?"
"Si B pinter tuh basketnya, saya mau les-in anak saya basket juga ah."
Itu hanya dua kalimat yang bisa saya ingat saat mengajar di SD.
Siapa yang ngomong itu? Orang tua.
Sekarang ...
"Anakku kok belum bisa angkat kepala ya? Padahal sudah umurnya."
"Anakku sudah naik BBnya 5 kg, anakmu gimana?"
"ASImu dikit ya? Pantesan anakmu kecil gitu. Anakku minumnya kuat, jadi gendutnya cepet."
Siapa yang ngomong gitu? Orang tua (juga)
Intinya, semua orang tua (pada dasarnya) punya intuisi untuk membandingkan. Padahal ya, tiap anak itu beda. Tiap anak itu unik. Jangan sama ratakan. Perkembangan tiap anak pasti beda.
Memang ada teori yang bilang usia sekian harus sudah bisa ini dan itu. Tapi itu sekadar teori, bukan patokan mutlak yang harus dipegang teguh.
Kalau ada yang bilang "anakku sudah bisa ini itu, anakmu belum ya?" - jangan diambil hati. Sekali lagi, perkembangan tiap anak itu beda. Tiap anak diciptakan unik.
Dan kalau ada yang bilang, "wah hebat ya si A sudah bisa ini itu, anakku kok belum ya?" - kasih tau aja kalau (lagi-lagi) perkembangan tiap anak itu beda. Tiap anak diciptakan unik.
So, anakku ya anakku. Anakmu ya anakmu. Mereka beda. Jangan dibandingkan. Jangan disamakan.
Jumat, 22 Desember 2017
Full Time Mom versus Working Mom
![]() |
| Source: Pinterest |
Ketika teman-teman (rekan kerja) berkunjung ke rumah, ada satu pertanyaan yang menarik, "Gimana miss rasanya jadi ibu? Kan dulu kerja sekarang di rumah, ngurus anak." Rasanya? It's more challenging (or tiring if I may say) than working as a teacher taking care of other's kids for several hours!
Seorang ibu (of a newborn baby) dituntut siaga 24/7 alias 24 jam sehari, 7 hari seminggu. Memang ada ayah yang siap membantu, tapi kalau anak nangis, tetap saja si ibu tidak tenang. Capek? Iya. Bosan? Kadang.
Jadi apa saya menyesal memutuskan untuk mengundurkan diri dari jabatan kepala sekolah dan menjadi ibu penuh waktu? Tidak.
Keputusan itu sudah dipertimbangkan baik-baik. Selain karena tidak ada sanak saudara di sini yang bisa 'dititipi' anak, saya termasuk ibu idealis yang memang ingin merawat anak sendiri -no babysitter! (sekian tahun di dunia pendidikan membuat saya berpikir 'sudah lama urus anak-anak orang, sekarang urus anak sendiri'). Di samping itu, saya tahu batasan diri saya. Saya merasa tidak akan sanggup menjadi 'working mom'. Jadi ibu penuh waktu saja capeknya luar biasa, apalagi ibu yang bekerja (dan bekerja sebagai guru yang harus menghadapi anak-anak didik dengan berbagai tantangan). Pasti super melelahkan.
Saya bangga berani memutuskan untuk menjadi ibu penuh waktu pun menghormati suami saya yang mendukung sepenuhnya. Itu tanda cinta saya (dan suami) pada anak. Walau begitu, saya juga harus angkat topi untuk ibu-ibu yang tetap bekerja karena mereka luar biasa hebat. Belum tentu saya sanggup seperti mereka.
Entah jadi ibu penuh waktu atau ibu bekerja, kita sama-sama ibu yang mengasihi anak-anak kita. Yakan?
Selamat hari ibu, para ibu hebat! 😘
Langganan:
Postingan (Atom)


